← Kembali ke Blog

Menulis Itu Skill, Bukan Bakat

Coba perhatikan: banyak murid yang lancar cerita panjang lebar soal drama di kelas, cerita liburan, atau bahas game favorit — tapi begitu disuruh menulis dua kalimat di buku tugas, tiba-tiba diam, mikir lama, terus nulisnya cuma “menurut saya begini.” titik.

Kenapa bisa beda jauh begitu? Padahal isi kepalanya sama-sama penuh ide.

Kenapa Menulis Terasa Lebih Berat dari Bicara

Ada beberapa alasan sederhana kenapa menulis terasa lebih menguras energi dibanding ngomong:

1. Menulis butuh menyusun, bukan cuma mengingat. Saat bicara, kata-kata keluar begitu saja, mengalir. Saat menulis, otak harus menyusun kalimat yang rapi, mikirin ejaan, dan mikirin urutan — semuanya sekaligus. Wajar kalau terasa lebih lambat dan berat.

2. Takut salah. Tulisan itu “bukti” yang bisa dibaca ulang dan dinilai. Beda dengan omongan yang lewat begitu saja. Rasa takut salah ejaan atau tata bahasa ini sering bikin murid berhenti sebelum sempat menulis banyak.

3. Tidak ada tombol “hapus otomatis” seperti saat bicara. Kalau salah ngomong, tinggal diralat sambil jalan. Kalau menulis, rasanya harus benar dari kalimat pertama — padahal sebenarnya tidak harus begitu.

Intinya, malas menulis itu bukan soal bakat. Ini soal kebiasaan yang belum terbentuk, dan itu artinya bisa dilatih.

3 Latihan Menulis Ringan yang Bisa Dicoba

1. Menulis bebas 5 menit tanpa dikoreksi (freewriting). Set timer 5 menit. Tulis apa saja yang ada di kepala tentang satu topik — tanpa mikirin ejaan, tanpa mikirin rapi atau tidak. Kalau buntu, tulis saja “aku bingung mau nulis apa” sampai ide berikutnya muncul. Tujuannya bukan hasil bagus, tapi melatih tangan dan otak terbiasa jalan bareng.

2. Mulai dari versi pendek, baru dikembangkan. Daripada langsung disuruh nulis satu halaman, coba mulai dari satu paragraf saja — 3-4 kalimat. Kalau sudah terbiasa dengan paragraf pendek, baru dikembangkan jadi lebih panjang. Tulisan panjang yang bagus itu hasil dari tulisan pendek yang dilatih berulang, bukan langsung jadi.

3. Menulis seolah cerita ke teman, bukan ke guru. Salah satu alasan tulisan jadi kaku adalah karena dibayangkan “ini akan dinilai.” Coba ganti sudut pandang: tulis seolah lagi cerita ke teman dekat lewat chat. Biasanya jadi lebih natural, dan itu titik awal yang bagus sebelum dirapikan lagi.

Coba Sekarang

Ambil kertas atau buka catatan HP. Tulis 3 kalimat saja tentang: “hal paling seru yang terjadi minggu ini.” Tidak perlu sempurna, tidak perlu dikoreksi siapa pun. Ini cuma latihan, bukan tugas yang dinilai.

Untuk Bapak dan Ibu Guru

Pak Gun sering menemukan murid yang sebenarnya punya ide bagus, tapi macet begitu disuruh menuliskannya. Beberapa hal yang bisa membantu:

  • Beri opsi menulis pendek dulu. Tidak semua tugas menulis harus panjang. Paragraf pendek yang selesai lebih berharga daripada paragraf panjang yang tidak pernah dimulai.
  • Jangan langsung koreksi tata bahasa di draf pertama. Apresiasi dulu isinya — idenya menarik atau tidak — baru masuk ke perbaikan bentuk tulisan di draf berikutnya. Kalau semua dikoreksi sekaligus di awal, murid jadi takut menulis lagi.
  • Beri contoh tulisan yang “biasa saja”, bukan cuma yang sempurna. Murid sering merasa tulisannya harus sebagus contoh di buku paket. Padahal proses menulis yang nyata itu berantakan dulu, baru rapi.

Penutup

Menulis itu seperti olahraga — makin sering dilatih, makin ringan terasa. Tidak ada yang langsung jago dari awal, termasuk penulis sekalipun. Yang penting bukan hasil sempurna di percobaan pertama, tapi keberanian untuk mulai menulis kalimat pertama itu.

Coba mulai dari 3 kalimat hari ini. Siapa tahu, dari situ muncul cerita yang lebih panjang dari yang kamu kira.