Ketika Murid SMP Belum Hafal 6 : 3
🧮 Ketika Murid SMP Belum Hafal 6 : 3
Sedang membahas materi kelas 8 seperti “merasionalkan bentuk akar”, eh ternyata ada murid yang masih bingung 6 dibagi 3. Kok bisa? Dan apa yang bisa guru lakukan?
Cerita yang Ternyata Banyak Dialami Guru
Coba bayangkan: Anda sedang menyiapkan materi “3 dibagi akar 3” untuk merasionalkan penyebut. Sebelum masuk ke situ, Anda iseng bertanya soal pembagian sederhana — dan jawaban yang muncul jauh dari dugaan. Ada yang menjawab 5 : 5 = 5. Ada yang menjawab 2 : 2 = 0. Ada juga yang yakin 8 × 8 = 16.
Kalau Anda pernah mengalami hal serupa, tenang — ini bukan kejadian langka. Banyak guru matematika SMP berbagi pengalaman yang mirip: murid kelas 8 yang seharusnya sudah lancar operasi dasar, ternyata masih goyah di perkalian dan pembagian sederhana. Bahkan ada yang tulisan tangannya masih setara anak usia pra-sekolah, atau kesulitan membaca lancar.
Ini bukan salah satu pihak saja. Ini soal kesenjangan fondasi yang terbawa dari jenjang sebelumnya, dan sekarang jadi “warisan” yang harus ditangani guru SMP sambil tetap mengejar target kurikulum.
Kenapa Ini Bisa Terjadi?
- Kenaikan kelas otomatis. Banyak murid naik kelas meski belum tuntas kompetensi dasarnya, sehingga fondasi berhitung yang seharusnya matang di SD justru menumpuk jadi tugas guru SMP.
- Hafalan dasar terlewat. Perkalian dan pembagian dasar (misalnya tabel 1–10) sering dianggap “sudah pasti bisa” sehingga jarang diulang lagi di jenjang lanjut — padahal sebagian murid sebenarnya belum pernah benar-benar menguasainya.
- Kesulitan membaca-menulis yang menumpuk dengan matematika. Murid yang belum lancar calistung otomatis akan lebih berat lagi saat harus memahami soal cerita atau notasi matematika.
- Kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Sebagian kecil murid memang membutuhkan pendekatan khusus dan asesmen dari psikolog atau guru pendamping, bukan sekadar pengulangan materi biasa.
Yang Bisa Dilakukan Guru
- Cek fondasi sebelum masuk materi baru. Sisipkan kuis singkat 5 menit soal operasi dasar sebelum memulai bab baru. Kalau hasilnya banyak yang meleset, luangkan waktu mengulang dulu — sekecil apa pun ketinggalan, lebih baik ditangani di awal daripada menumpuk.
- Ulang dengan cara berbeda, bukan sekadar diulang. Kalau murid gagal paham lewat hafalan tabel, coba visual (kelompok benda, garis bilangan) atau permainan sederhana yang membuat perkalian/pembagian terasa konkret.
- Pisahkan angka dari tulisan tangan saat menilai. Sebagian guru menyiasati dengan cara menilai berdasarkan hasil angka/nomor absen dulu, supaya murid yang tulisannya belum rapi tidak langsung tertinggal secara nilai — sambil tetap dibantu terpisah untuk melatih tulisannya.
- Libatkan orang tua dan tenaga ahli untuk kasus khusus. Untuk murid yang kesulitannya jauh di luar rata-rata kelas (misalnya belum lancar membaca sama sekali), koordinasi dengan orang tua dan asesmen psikolog anak akan jauh lebih membantu ketimbang terus memaksakan materi reguler.
- Rayakan kemajuan kecil. Murid yang awalnya menolak menulis lalu mau mencoba menyalin dari papan tulis, itu sudah kemajuan besar — beri apresiasi supaya ia tidak makin menutup diri.
Intinya
Menemukan murid SMP yang belum hafal pembagian dasar memang bisa bikin pusing, apalagi saat materi yang dikejar sudah jauh lebih lanjut. Tapi ini pengingat bahwa peran guru bukan cuma mengajarkan materi baru, tapi juga menambal fondasi yang bolong — sambil tahu kapan harus melibatkan pihak lain untuk kasus yang butuh penanganan khusus. Pelan-pelan, tapi pasti.